KOTABARU – Di bawah terik matahari, Bupati Muhammad Rusli dan Wakil Bupati Syairi Mukhlis blusukan ke daerah plosok, Kamis (26/3/2026).
Aksi turun lapangan ini seolah menjadi antitesis dari gaya kepemimpinan “di balik meja”. Rusli dan Syairi memilih menyusuri aspal yang mengelupas dan lubang-lubang dalam yang selama ini menjadi keluhan laten warga.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya memvalidasi laporan birokrasi dengan realitas di akar rumput.
Di lokasi, dialog organik tercipta. Tanpa sekat protokoler yang kaku, warga menumpahkan keluh kesahnya. Bagi masyarakat, kehadiran dua pucuk pimpinan daerah ini adalah oase sekaligus harapan agar mobilitas mereka tak lagi terpasung infrastruktur yang karut-marut.
“Kami tak ingin dikaburkan oleh laporan formal. Melihat langsung kondisi di lapangan memberikan perspektif yang berbeda agar eksekusi kebijakan lebih presisi,” ujar Rusli kepada awak media. Menurutnya, urusan jalan bukan sekadar soal aspal, melainkan soal denyut ekonomi dan akses pendidikan yang terhambat.
Senada dengan sang bupati, Syairi Mukhlis menegaskan bahwa peninjauan ini akan langsung dikonversi menjadi instruksi teknis kepada dinas terkait.
Ia menjanjikan adanya percepatan dalam skema perbaikan agar anggaran daerah benar-benar terserap untuk kebutuhan paling mendesak.
“Kami pastikan ini masuk dalam radar prioritas. Koordinasi segera dilakukan agar penanganannya tak sekadar tambal sulam, tapi berkelanjutan,” kata Syairi.
Di balik aksi blusukan ini, tersirat pesan politik yang kuat: sinergisitas. Di tengah dinamika pembangunan daerah, kekompakan Bupati dan Wakil Bupati dalam mengawal persoalan infrastruktur menjadi modal penting untuk memastikan janji-janji politik tak berhenti di atas kertas. Kini, publik Kotabaru tinggal menunggu seberapa cepat mesin birokrasi bergerak setelah sepatu para pimpinannya kotor terkena lumpur jalanan.
Repoter: Jumadil.






Komentar