BARABAI– Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mulai mendorong transformasi sistem pendidikan melalui pelatihan bertajuk Leading with Trust, Teaching with Impact, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan yang dibuka di Pendopo Bupati HST ini merupakan bagian dari program Whole System Transformation yang dilaksanakan bertahap pada 20–25 April 2026 di Aula Hotel Darul Istiqamah Barabai.
Pembukaan dihadiri sejumlah unsur pimpinan daerah, di antaranya Asisten I Bidang Pemerintahan H. Ainur Rafiq yang mewakili Bupati HST, Wakil Ketua DPRD Tajudin, Ketua Komisi I DPRD Yazid Fahmi AS, serta berbagai organisasi pendidikan seperti Dewan Pendidikan, PGRI, PWI, HIMPAUDI, MGMP, MKKS, dan KKG.
Sekretaris Dinas Pendidikan HST, Salihin, mengatakan pelatihan ini dilatarbelakangi kebutuhan perubahan paradigma pendidikan yang kini menuntut kepemimpinan kuat serta pembelajaran berpusat pada murid.
“Tujuannya memperkuat kepemimpinan berbasis kepercayaan, meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran aktif, hingga menghasilkan School Impact Action Plan yang siap diterapkan,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan praktisi pendidikan nasional, Rian Octa Pratama, yang juga menjabat sebagai Chief Technology Officer di Lentera Reformasi Edukasi.
Secara teknis, kegiatan dibagi dalam dua tahap. Dua hari pertama diikuti 94 peserta yang terdiri dari pengawas, penilik, dan kepala sekolah dengan fokus pada penguatan kepemimpinan. Selanjutnya, selama empat hari, pelatihan diikuti 456 guru SMP melalui MGMP dalam beberapa angkatan.
Dalam sambutan Bupati yang dibacakan Ainur Rafiq, ditegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan.
“Transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen agar tercipta sinergi antara kepemimpinan dan praktik mengajar yang berkualitas,” katanya.
Sementara itu, Rian Octa Pratama mengajak peserta mengevaluasi efektivitas program pendidikan yang selama ini dijalankan.
“Ukuran keberhasilan ada pada yang terjadi di murid. Banyak sekolah punya banyak program, tapi belum tentu berdampak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan tenaga pendidik, termasuk risiko kelelahan yang memengaruhi kualitas pembelajaran. Menurutnya, kepala sekolah dan pengawas harus berperan sebagai pemimpin yang melayani, bukan sekadar menjalankan fungsi administratif.
“Saya tidak mau menambah beban. Justru kita pangkas yang tidak penting. Cukup satu program unggulan yang fokus, itu bisa mengubah nasib sekolah,” ujarnya.
Di akhir sesi, peserta ditantang untuk menghadirkan satu perubahan nyata di kelas dalam tiga bulan ke depan sebagai bentuk implementasi pelatihan.
Pemkab HST berharap kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya praktik pendidikan yang lebih efektif, manajemen sekolah yang solid, serta pembelajaran yang bermakna, guna mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap bersaing di masa depan.






Komentar